I will always be the man you need
for better or worse, for happy and sorrow
‘til the day that I die
Di beranda ini, angin tak kedengaran lagi
Pada sudut jalan di seberang, yang terdengar hanya sepi
Sepi yang tak berperi
Di ruangan ini, tembok tak berputih lagi
Pada sudut lemari di pojokan, yang kelihatan hanya limbah anestesi
Anestesi untuk mengingkari
Di halaman ini, salju tak pernah turun lagi
Pada sudut taman di pelataran, yang menghampar hanya duri
Duri dari dunianya sendiri
Tidak ada bungah yang bersisa lagi…
Mungkin karena di sini, kamu telah lama pergi
-28 Apr 2012, terinspirasi sajak milik Goenawan Mohammad
Don’t you know you have a perfect smile?Can I stay and make my time all worth whileWhen you’re here you make my gloomy shineCan we cuddle on my bed just for a whileAnd please don’t say noAnd please don’t let goI’ll show you how this may goUntil you say..“I love you more”
Wah, tau-tau saja, sekarang bulan sudah berganti menjadi Maret rupanya — bahkan sudah hampir berganti lagi menjadi April. Hmm, memang sudah lama sekali kelihatannya, sejak kali terakhir saya mau bersusah payah mengetahui tanggal di kalender buluk milik saya sedang menunjuk ke angka berapa dan hari apa. Lagipula — waktu itu— buat apa? tak ada manfaatnya buat saya.
Ya, sebagai seorang pengangguran ad-interim selama beberapa bulan ke belakang, dan ke belakang-belakangnya lagi, memang tak begitu banyak untungnya buat saya mengetahui tentang kedua hal tersebut. Semua hari nyaris tak ada bedanya buat saya. Mau itu Kamis pahing, Selasa pon, ataupun Minggu legi, saya tetap bisa bangun tidur sesiang mungkin, memilih-milih pakaian yang mau saya pakai secara anarkis, mandi hanya satu kali sehari, mengamati pergerakan chart lagu yang sedang booming di acara “dahsyat” setiap pagi, ataupun begadang sampai pagi buta untuk menikmati gol demi gol yang terjadi pada pelbagai siaran sepakbola dini hari. Semuanya bebas. Merdeka.
Tapi semua itu berubah. Saya kini menjadi sangat dependen pada sebuah kalender, meskipun ia bukan pacar saya. Boleh dibilang, apa yang akan menimpa saya pada sebuah hari, sekitar 58,39%-nya telah ter-pre determined oleh tanggal dan hari yang ditunjuk oleh kalender.
Misalnya saja begini, untuk urusan bangun tidur, kalender lah yang menentukan pukul berapa saya akan bangun. Kalau kalender sedang berwarna hitam, hampir dapat dipastikan saya akan bangun berbarengan dengan jadwal Mamah Dedeh membuka sesi curhatnya di televisi. Pengecualian bisa terjadi kalau kalender yang hitam itu sedang merujuk ke hari Sabtu, yang memang sebelas-dua belas dengan tanggal warna merah buat saya. Di kedua momentum itu (hari sabtu dan tanggal merah), saya akan bisa bangun siang tanpa harus grusa-grusu ngacir ke kamar mandi dengan mata masih kriyep-kriyep untuk kemudian mengguyur muka saya dengan air ledeng yang lumayan membikin nyeri tulang belulang.
Lalu selanjutnya tentang baju. Tanggal juga lah yang menentukan baju apa yang akan saya pakai di sebuah hari. Senin saya akan pakai putih, Selasa akan pakai batik, Rabu akan pakai biru, Kamis akan pakai setrip-setrip, dan Jum’at akan pakai batik lagi. Sabtu-Minggu, dan hari libur lainnya, barulah saya bisa kembali anarkis dalam soal memakai baju.
Soal yang lain juga tak jauh beda. Saya sekarang jarang nonton dahsyat (ini sebenarnya bagus buat kebaikan diri sendiri sih, hahaha), jarang mandi pagi jam 1 siang, jarang begadang sampai jam 3 pagi, juga jarang nonton siaran Liga Champions atau segala macam pertandingan sepakbola yang mentas pada dini hari. Terkecuali kalau itu hari Sabtu-Minggu atau hari libur nasional, barulah saya bisa melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.
Untuk mengurus hal-hal remeh temeh lain pun, yang biasanya bisa saya kerjakan di hari-hari apa saja, sekarang juga harus menunggu hari sabtu dan minggu serta hari libur lainnya agar bisa ditunaikan. Padahal, tidak semua hal-hal remeh temeh tadi bisa diselesaikan pada hari merah. Ada beberapa yang hanya bisa diurus pada hari-hari hitam saja. Mengurus perpanjangan KTP dan SIM, misalnya.
Saya jadi ingat tulisan milik Gita. Di tulisannya itu, dia menuliskan bahwa dalam hidup ini adalah melulu soal memperoleh dan kehilangan. Ketika memperoleh sesuatu, hampir bisa dipastikan bahwa kita juga akan kehilangan sesuatu. Saya setuju benar dengan tulisannya itu. Sebab, bahkan untuk memperoleh sesuatu yang berlabel “gratis” sekalipun, kita masih tetap akan mendapati sebuah kehilangan. Kehilangan waktu atau kehilangan tenaga, misalnya.
Begitu juga dengan yang sedang saya alami sekarang ini. Segala arus balik yang saya sebutkan tadi, boleh dibilang adalah “kehilangan” yang harus saya panggul untuk memperoleh apa yang saya dapat. Hilangnya waktu-waktu luang, serta fleksibilitas dalam melakukan kegiatan, telah tergantikan dengan datangnya jam-jam kerja seiring dengan dimulainya masa magang saya. Sama seperti tadi, ada yang diperoleh, ada pula yang hilang.
Ya, dalam hidup ini memang harus ada dua hal tadi, memperoleh dan kehilangan. Setiap ada kesenangan, pasti juga diselingi dengan kesedihan. Seperti kata Monsieur Pram, “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” Dan untuk yang demikian inilah biasanya kita, saya terutama, sering lupa bahwa setiap memperoleh dan kehilangan, keduanya memang harus dijalani sesuai porsinya. Agar supaya kita tidak gila karena melulu memburu kesenangan, ataupun menjadi pesakitan yang terlalu lama berkubang dalam keluh kesah. Demikianlah…
Dimitar Berbatov applauds the supporters as he leaves the pitch with the match ball after scoring a hat trick
the bulgarian strikes back!
Kalau boleh jujur, kawan, sudah lama sekali, bahkan semenjak Napoleon Bonaparte masih melahap bubur kanji bertabur serpihan kayu manis dengan disuapi oleh ibunya, saya sudah berangan-angan ingin bertatap muka dengan dia. Adalah melalui tulisan-tulisan pendek, tidak sependek otak kiri saya tentu, yang sering saya baca, entah yang bernama panggil sebagai novel maupun yang berjuluk sebagai cerpen, saya mengetahui ihwal jejak keberadaannya.
Dia ada disana, masih di pulau yang sama dengan tempat saya mengetik tulisan ini sekarang, Pulau Jawa. Lebih spesifik, berada pada wilayah teritorial Imperium Ngayogjokarto-Hadiningrat. Menyoal koordinat garis lintang dan bujur, saya tak paham. Kau carilah sendiri pakai Google-Maps yang mahasakti itu, jaman kan sudah modern.
Pun, saya juga sering menangkap wujud-wujud semi delusional-nya melalui adegan-adegan remeh temeh pada drama televisi, sebenarnya tidak terlalu drama betul sih, yang mereka-beri-titel-sebagai FTV. Kebanyakan darinya adalah adegan perpisahan yang sendu, dengan bumbu berupa air mata berkadar kolesterol rendah. Jarang sekali yang berupa adegan perjumpaan kembali dua insan yang terpisah, juga tidak dengan adegan laga kolosal semisal Tutur Tinular atau duel Wiro Sableng, apalagi yang berupa adegan senggama erotis sepanjang 40-an menit bersama Sora Aoi. Oh baiklah, saya mulai ngelantur.
Ketahuilah kawan, bahwa rasa penasaran adalah fitrah juga mukjizat paling alami bagi seorang anak cucu Adam. Dan sebagai makhluk Tuhan yang paling gampang dimakan pencitraan, penasaran adalah hal nomor dua paling mudah yang sering saya rasakan. Nomor satunya adalah jatuh cinta. Hmm, seharusnya tidak saya tulis itu, tapi biarlah.
Ketahuilah juga, bahwa saking seringnya saya menemukan dia pada tiap cerita-cerita tadi, yang entah kenapa selalu bagus alur ceritanya, menurut hemat saya dan juga hemat listrik sesuai iklan layanan masyarakat, keinginan untuk menemui langsung wujudnya selalu datang. Ini semacam penasaran pada gadis di seberang sana, yang telepon genggamnya sering kau kirimi pesan singkat berupa ucapan-ucapan “Selamat pagi” dan “Selamat malam”, padahal kau tak pernah mengetahui seperti apa bentuk cetakan wajahnya serta lekuk semampai pinggangnya. Apakah benar lobang hidungnya hanya ada dua, bulu matanya benar berposisi di atas bola mata, atau bagaimana gigi-gignya berbaris dalam goa masam bernama rongga mulut. Ya semacam itulah.
Lalu bagaimana ketika akhirnya rasa penasaran itu benar-benar dipenuhi nafkah batiniah serta lahiriahnya? sudah pasti kau akan senang bukan, kawan? semacam ada lega dan juga ada puas yang kondisional. Nah, kalau begitu saya juga pasti takkan berbeda lah. Saya kan - Terima kasih Tuhan, Alhamdulillah - masih manusia juga seperti kalian, pada umumnya dan pada khususnya.
September kemarin lalu, saya akhirnya berhasil menemuinya. Ya benar, dia… yang-saya-beri-narasi-deskripsi-omong kosong-panjang lebar-di atas. Pada akhirnya, bertatap muka langsung dengan saya. Setelahnya, saya sudah tak penasaran lagi akan wujudnya. Lalu apabila kini kau yang menjadi penasaran kawan (kalaupun tidak ya sudah) inilah dia wujudnya…….

